Saturday, October 3, 2015

Review: Goodnight Mommy / Ich Seh Ich Seh (2015) Bahasa Indonesia


AWAS SPOILER...


Goodnight Mommy atau yang berjudul asli Ich Seh Ich Seh ini berasal dari Australia yang disutradarai oleh Severin Fiala dan Veronika Franz. Goodnight Mommy bercerita tentang sepasang anak kembar yang bernama Lukas dan Elias (Lukas&Elias Schwarz) yang kedatangan ibunya (Susanne Wuest)  paska operasi kecelakaan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang indah di dekat hutan dan ladang jagung. Setelah ibunya pulang, Lukas dan Elias merasa bahwa yang ada dirumah mereka adalah ibu mereka yang sebenarnya. Lukas dan Elias mulai mencari tahu siapa yang sedang tinggal dengan mereka.



Dari awal film kita sudah diperlihatkan visual yang indah tapi terasa seramnya seperti di ladang jagung, hutan, dan rumah itu sendiri. Bagaimana kita diperlihatkan sosok ibu yang creepy dengan wajah yang dibalut perban. Tidak ada penampakan sosok hantu dan momen-momen jump scare di film ini. Yang bikin seram adalah sosok ibu yang dibalut perban dengan tatapan tajamnya, perubahan sikap ibunya yang akan membuat kita mengira bahwa........... (ups, takut spoiler :p) dan kisah antara ibu dan si kembar. 


Jujur, ini bukan tipe film yang saya suka. Saya lebih suka film horror yang dipenuhi dengan penampakan dan momen jump scare. Selera orang beda-beda kan? 
Film ini bergerak sangat lambat bagi saya. Saya menikmati film ini hanya di 30 menit terakhirnya saja. 30 menit terakhir terasa sangat menyakitkan sekaligus membuat mata saya terbuka kembali. Bagaimana anak kecil yang tidak bisa membedakan mana kenyataan dan imajinasi membuat 30 menit terakhir menjadi disturbing.


Si kembar, Elias dan Lukas Schwarz berhasil dengan baik memerankan karakter anak kembar yang kebingungan dan menakutkan. Menurut saya akting mereka terasa natural, tidak seperti dibuat-buat bahwa mereka menjadi anak yang 'sakit'. Begitu pula dengan Susanne Wuest yang memerankan karakter 'mommy', bisa misterius dan seperti monster ketika memakai perban, dan menjadi sangat emosional ketika perbannya sudah dibuka.



Overall, Goodnight Mommy adalah film yang seram bukan dengan penampakan-penampakan, tapi dengan visual yang membuat atmosfer seram dari setting tempat dan karakter. Tapi film ini bukan tipe film horror yang saya suka. Jika kalian mempunyai selera seperti saya, maka harus bersabar untuk sampai ke endingnya. Oya, kalau kalian berminat nonton film ini, don't watch the trailer. Nikmatin aja filmnya dari awal sampai akhir. 

Selamat menonton! ^^

Tuesday, September 29, 2015

Review: 3 Dara (2015)





Halo temen-temen. Akhirnya bisa nonton Indonesia juga, dari kemarin itu banyak yang ke-skip film-film Indonesianya. Kali ini, saya memilih menonton 3 Dara.


Sinopsis:
Film ini menceritakan tentang 3 pria yang bernama Afandi (Tora Sudiro), Djay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting) yang tiba-tiba jiwanya berubah menjadi seperti wanita. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke psikolog wanita yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Apakah sebenarnya yang terjadi terhadap mereka? Apakah mereka kembali seperti semula? Silahkan ditonton ya di bioskop kesayangan.




Review:
Saya bisa bilang film ini lumayan, dibilang bagus mmmmm kurang, dibilang jelek juga tidak. Ekspetasi saya agak tinggi sih ketika melihat premis dan trailernya. Para pemainnya bermain dengan baik. Baik pemeran utama ataupun pemeran pendukungnya. Tora, Adipati, dan Tata bermain secara apik walaupun menurut saya kurang greget jiwa ceweknya. 

3 Dara ini adalah film bergenre drama komedi. Saya agak gugup juga sih setiap nonton film Indonesia yang genre-nya komedi. Selera humor saya itu rendah. Hahahah!
Tapi syukurlah banyak joke yang saya suka sehingga membuat saya tertawa. Tidak terbahak-bahak memang, tapi cukup menghibur saya. Scene yang paling mengundang tawa saya adalah ketika 3 Dara ini ada di mobil dan menyanyikan lagu Raisa sama scene Adipati yang lagi 'PMS'. Iya, cowok yang kena 'PMS', kok bisa? Monggo ditonton ya filmnya.



Untuk ide sih sebenernya saya pernah menemukan film Indonesia yang mirip-mirip temanya, tentang 'kutukan'. Kalau tidak salah judulnya 'Bukan Malin Kundang', genrenya sama drama komedi dan temanya sama tentang kutukan. Bedanya, kalau BMK itu lebih menceritakan perjalanan mereka untuk menghilangkan 'kutukan'nya, kalau 3 Dara lebih diceritakan tentang kisah hidup pribadi ketiga pemain utamanya.

Tidak hanya ketiga pemain utamanya yang berperan baik, ada pemain pendukung juga yang membantu menghidupkan film ini, contohnya adalah Indra Birowo dan Henki Solaiman yang berhasil membuat saya tertawa juga.Yang membuat saya suka adalah ketiga pemainnya lucu tanpa terkesan sedang melawak atau dibuat-buat. Chemistry ketiganya juga dapet, walaupun mereka bertiga beda umur dan beda pekerjaan. 

Saya suka idenya sih, saya juga suka visualnya. Tapi saya kurang suka sama naskahnya, terasa kurang aja, padahal idenya udah oke. Saya juga suka banget sama akting Adipati Dolken disini, dia yang sangat mendekati ekspetasi saya diantara Tora dan Tata. Bukan berarti Tora dan Tanta gagal ya, tidak sama sekali. Mereka sama-sama berhasil memerankan 3 Dara, tapi ya favorit saya disini Adipati Dolken. Didukung dengan rambut dia yang blonde dan badannya yang kurus banget, terasa banget feel ceweknya. 



Film ini memang tidak sempurna. Film komedi yang hanya membuat saya tertawa kecil saja. Tapi film ini enjoy kok buat ditonton. Jajaran pemainnya berhasil menghidupkan film ini. Buat para cowok, jangan coba-coba macam-macam sama cewek ya, karena apa yang diperbuat akan mendapat balasannya. Buat cewek juga jangan selalu egois. *ngomong sama kaca*

Selamat menonton! ^^

Trailer 3 Dara


Thursday, September 10, 2015

Review: The Piper / Guest / Sonnim (2015)





Halo temen-temen, kali ini saya mau bahas film horror Korea yang berjudul The Piper/Guest/Sonnim (2015)

Film ini terinspirasi dari dongeng terkenal di Jerman yang berjudul 'The Pied Piper of Hamelin'. Versi dongengnya bercerita tentang pria peniup suling yang bisa memberantas hama tikus dengan suling ajaibnya. Setelah pemerintah menolak untuk memberikan imbalan, si peniup seruling memanfaatkan sihirnya untuk memikat anak-anak, membuat mereka meninggalkan kota sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap hama tikus. (Sumber: Wikipedia)



The Piper bercerita tentang seorang pria yang bernama Woo Ryong dan anak lelakinya yang bernama Young Nam yang tiba di sebuah desa di pegunungan. Kepala desa memperbolehkan mereka tinggal disana untuk sementara. Woo Ryong menyadari bahwa desa ini terserang hama tikus yang juga suka memakan kuping anak-anak. Dengan serulingnya, Woo Ryong berhasil mengusir tikus-tikus tersebut. Ketika seharusnya Woo Ryong mendapatkan uang atas jasanya, kepala desa mengkhianati Woo Ryong dan putranya. Mimpi buruk segera mendatangi desa tersebut.

Untuk chemistry Woo Ryong dan putranya dari awal sudah terlihat sangat kuat, membuat penontonnya bersimpati terhadap keduanya. Ditambah Young Nam juga sedang sakit TBC. Plot utamanya memang masih dengan dongeng 'The Pied Piper of Hamelin', tapi di film ini cerita tersebut dikembangkan. Ada unsur horror, thriller, romance, bahkan sedikit gore. 



Untuk orang yang tidak sabaran seperti saya pasti akan bosan dengan film ini. Di paruh awal dipakai untuk pengenalan karakter utama dan orang-orang yang tinggal di desa tersebut. Saya malah mengira ini film drama. Saya sendiri merasa sangat bosan. Tapi setelah saya nonton sampai akhir, apakah endingnya worth it buat ditunggu? Saya akan jawab IYA.

Banyak film Korea yang bertema balas dendam, dan memang banyak yang bikin ngilu. Di akhir film ini berubah total dari paruh pertama dan kedua. Langsung berubah jadi kelam, disturbing, bikin ngilu. Kesabaran saya menunggu ending yang epic akhirnya terbayarkan. Di satu sisi, mereka pantas mendapatkan apa yang mereka perbuat, tapi di sisi lain, scene itu membuat hati saya sedih, serius. 

Overall, The Piper adalah film yang bergerak lambat. Untuk orang yang cepat bosan seperti saya, harus ekstra sabar, tapi 30 menit terakhirnya memang pantas untuk ditunggu. Adegan yang akan membuat kalian puas tapi juga sekaligus membuat hati sedih. Setelah nonton film ini, saya jadi makin geli sama tikus :(

Selamat menonton!




Ada Lee Joon juga loh di film ini ^^



Tuesday, September 8, 2015

Review: Sinister 2 (2015)




Halo temen-temen, kali ini saya akan share review saya untuk film Sinister 2 yang tadi saya tonton di XXI Citraland. Selera horror saya ini bisa dibilang payah, saya lebih suka film-film horror yang kebanyakan didalamnya berisikan momen-momen jump scare. Saya bukanlah salah satu penggemar dari film Sinister yang pertama. Jadi saya tidak berekspetasi tinggi di film keduanya ini. Di Sinister 2, Scott Derrickson bukan menjadi sutradara lagi, melainkan Ciaran Foy yang pernah menyutradari film Citadel.



Dari segi cerita dan karakter, film pertamanya memang jauh lebih unggul dari film keduanya. Film pertamanya masih ada elemen rumah berhantu, pembunuhan, novel misteri. Kalau di film keduanya ceritanya tidak sebagus yang pertama. Ada James Ramsone (Deputy) yang menyelidiki kematian temannya, yaitu Elisson Oswalt (dalam film pertamanya), James menyelidiki ke rumah yang bersebelahan dengan gereja yang pernah menjadi TKP pembunuhan dengan pola yang sama dengan pembunuhan keluarga Oswalt. James yakin gereja tersebut mempunyai hubungan dengan pembunuhan keluarga Oswalt. Di rumah tersebut tinggal satu ibu tunggal dan dua anak lelakinya.

Yang paling menarik dari film ini adalah cuplikan-cuplikan film found footage bagaimana anak-anak tersebut membunuh keluarganya. Ngilu banget. Secara visual, masih sama dengan film yang pertama, masih creepy dari awal-akhir. Kalau untuk bagian nakut-nakutin saya sih saya lebih suka film kedua ini. Iya..iya, banyak momen jump scare norak memang, balik lagi, maapkeun selera horror saya hahaha. Tapi saya jauh lebih suka Sinister 2 dari yang pertama untuk soal menakuti penonton. 



Di Sinister 2 juga mulai terkuak siapa sih Bughull itu. Asal muasalnya juga diceritakan disini. Tapi oh tapi, menurut saya Bughull terlalu banyak muncul disini, di seri pertama, Bughull terlihat sangat menyeramkan dengan penampilan minimnya. Sekarang, malah muncul dimana-mana. Sampe di motel si Deputy loh, niat banget Ghull nakut-nakutin Deputy? 



Karakter dua anak pemeran utamanya pun menurut saya terlihat konyol. Gemes banget nontonnya, iya, gemes mau nonjok. Yang satu terlalu takut dan pengecut, yang satu lagi malah pingin terlihat kejam dan menjadi anak yang 'terpilih'. Untuk peran Deputy pun ngga bisa sekuat peran utama Ethan Hawke di seri pertamanya.



Overall, untuk segi cerita dan karakter, Sinister 2 kalah dibanding pertamanya. Tapi, kalau untuk soal menakuti dan mengagetkan penonton, saya lebih suka Sinister 2. Visual dan scoring yang creepy siap meneror kalian di sepanjang film. Sinister 2 is not perfect, but overall it was good. 

Selamat menonton!

Rating
7/10


Friday, September 4, 2015

Review: L'oreal Lucent Magique Liquid Foundation (N5/Pure Honey) Bahasa Indonesia




Halo temen-temen, kali ini aku mau share review aku untuk produk L'oreal Lucent Magique Foundation dengan shade N5/Pure Honey. Aku lagi liat-liat di Guardian Central Park dan nemuin foundie ini, karena penasaran aku beli aja. Harganya ngga terlalu mahal kok, Rp. 130 ribu. Ukurannya juga ngga terlalu kecil. 



Akhir-akhir ini aku lagi suka banget sama foundie/BB Cream yang hasilnya glowing gitu. Nah, banyak review yang bilang kalo produk ini hasil akhirnya itu dewy finish. Informasi juga. kulitku itu super duper oily. Jadi, mau pake foundie yang matte atau yang dewy hasilnya sama aja, berminyak-berminyak juga. Derita muka berminyak, harus siap-siap oil paper sama loose powder :( Awal aku suka sama yang hasilnya dewy itu aku cobain foundie punya temenku, yaitu Buorjois Healthy Mix Foundation, dan aku gemes sama hasilnya! Suka banget, apalagi kalo difoto wajah terlihat sehat glowing gitu. Nah, aku ngga ada budget segitu buat beli foundie Buorjois, so, aku beli produk ini aja. 


Packaging:
Untuk packagingnya foundation ini terbuat dari kaca. Agak serem sih kalo mau dibawa kemana mana, takut pecah, agak berat juga untuk dibawa. Produk ini ada pump-nya, aku suka banget foundation yang pake pump gini. Biar mengontrol isi saat mau dipakai, dan pasti ngga beleberan kemana mana. 




Tekstur:
Teksturnya liquid dan gampang banget buat di blend. Aku sih biasanya blend-nya menggunakan brush. Tapi kalo kalian lebih suka pake sponge or jari tangan juga bisa kok. Aku suka banget sama teksturnya yang gampang dibaurkan ke wajahku. 

Sebelum memakai foundation L'oreal Lucent Magique


Sesudah

Hasil dan ketahanan:
Untuk hasil, produk ini dewy finish ya. Produk ini ngga tepat buat kalian yang nyari foundie dengan hasil matte. Wajahku itu sangat amat berminyak, setelah pake produk ini di outdoor selama 2,5 jam, mukaku udah banjir minyak. Tapi kalo aku sih fine fine aja, karena emang mau menggunakan produk apapun pasti akan banjir minyak, dan untuk itu, aku selalu sedia oil paper dan loose powder di makeup pouch aku. 


Untuk coverage aku bilang medium ya, karena pas aku coba, aku punya bintik-bintik hitam di sekitar jidatku dan masih belum ter-cover dengan baik. Apalagi untuk lingkaran hitam di mata, itu udah pasti harus pake concealer lagi. 

Ini hasil setelah pemakaian produk ini dari jam 5 sore sampai setengah 8 malam ya. 2,5 jam aku pakai produk ini di outdoor. 
No flash
With flash. Bisa diliat mukanya minyakan banget kan? 


Foundie ini menyatu banget sama warna kulitku. Jujur, ini aku beli asal banget, ngga swatch sama sekali (lagi males). Beruntung banget warnanya nyatu sama kulitku, ngga terlalu terang dan ngga terlalu gelap. Hasil setelah pemakaian di wajahku itu ringan banget, ngga berat kaya foundation lain. Malah menurutku kaya lagi make BB Cream :))

Overall aku suka sama produk ini. Foundie ini cocoknya dipakai buat sehari-hari karena teksturnya ringan banget di wajah. Foundie ini lebih cocok untuk kulit normal to dry. Kalo untuk kulit normal to oily kaya aku, daya tahannya jelek banget. 2,5 jam aku pake aja muka udah kaya penggorengan, banjir minyak! Tapi emang aku lagi nyari foundie yang dewy finish, yang ringan dan bikin muka terlihat sehat. 

Selamat mencoba!

Harga:
Rp. 130 ribu

Beli di:
Guardian


Love:
- Tekstur ringan dan mudah di blend
- Harga tidak terlalu mahal
- Packaging bagus, ada pump nya juga
- Menyatu sama warna kulit
- Buat wajah terlihat glowing

Hate:
- Staying power di oily skin jelek banget





Ini video first impression aku untuk produk ini. Silahkan dilihat ya :)



Sampai jumpa di post selanjutnya ya! ^^ Follow sosial mediaku:

Twitter: Follow ya :)
Instagram: Follow ya :)
Askfm: Jarang dipake (ngga ada yang nanya hihi), boleh kalo mau tanya-tanya/share ya :)

Thursday, August 27, 2015

Review: The Gallows (2015) Bahasa Indonesia


Director:
Travis Cluff, Chris Lofing

Stars:
Reese Mishler, Pfeifer Brown, Ryan Shoos


Sinopsis:

Film ini bercerita tentang sekelompok siswa yang ingin merencanakan sebuah pentas di sekolahannya yang bernama The Gallows. Di sekolah ini, 20 tahun lalu terjadi kecelakaan hingga menewaskan seorang siswa dalam pentas drama sekolah. Sekarang, mereka bermaksud menampilkan pentas drama yang sama seperti kejadian 20 tahun lalu. Ada beberapa anak yang ingin menggagalkan pentas tersebut yang berujung dengan teror. 

Review:

Saya memang tidak pernah suka film dengan gaya found footage seperti ini. Memang sih, terlihat lebih meyakinkan dan lebih real, tapi pergerakan kamera yang shaky atau goyang-goyang bikin saya pusing. Selain cerita yang itu-itu saja, endingnya pun ya gitu-gitu juga. Hal yang saya suka dari film semacam ini ya teknik nakut-nakutinnya. Lagi tenang tiba-tiba BOO! 

The Gallows di produksi oleh Blum House yang terkenal dengan Paranormal Activity, Sinister. Di awal, film ini meyakinkan dengan potongan video yang terjadi 20 tahun lalu di sekolah itu. Tapi setelah itu? Konyol dan aktingnya kaku banget buat ukuran film found footage. Setting tempatnya padahal udah creepy banget, di sekolahan, aula, gudang. Belum lagi properti-properti untuk pementasan drama kaya tali gantungnya. 



Ada satu scene yang agak mirip sama The Blair With Project, yaitu saat salah satu pemainnya yang udah ketakutan setengah mati melakukan monolog didepan kamera, lalu ada sosok yang terlihat dibelakangnya. Selain dari cerita yang mudah ketebak dan akting yang menurut saya kaku semua, saya suka sama pergerakan kameranya. Saat-saat menakutkan pas sekali dengan pergerakan kameranya. Ada satu scene yang beneran bikin saya kaget, pas tiba-tiba kamera menyorot sosok yang sedang digantung. Itu asli, kaget. Saya suka momen jump scare kaya gitu. :))



Walaupun dari segi akting dan cerita itu konyol, film ini lumayan serem juga kok untuk seukuran found footage. Setting tempat yang creepy dan ditambah beberapa momen jump scare yang bikin kaget. Film ini juga menawarkan ketegangan dari tengah film sampai akhir film. Di paruh awal memang pasti banyak scene yang bikin boring untuk perkenalan karakter. Setelah mereka terkurung di sekolahan, siap-siap kalian merasakan teror hingga akhir film.



Overall, untuk ukuran found footage, film ini lumayan menghibur kok. Abaikan cerita yang dangkal dan akting pemainnya yang ngga terlihat bagus di film ini. Film ini adalah film horror yang fun buat dinikmati.

Selamat menonton!

Rating:
6/10

Twitter: Follow ya :)
Facebook: Add ya :)
Instagram: Follow ya :)
Youtube: Mampir ya :)

Saturday, August 22, 2015

Review: Power Bank Xiaomi 10400 mAH (Bahasa Indonesia)



Halo temen-temen, maaf banget aku baru muncul. Kemarin, sibuk persiapan untuk sidang skripsi. Alhamdulilah lulus walaupun dengan nilai pas-pasan :') 

Jadi, sebelum event #WTF15 kemarin, aku udah order power bank Xiaomi 10400 mAH di Lazada. Karna aku emang mau videoin eventnya dan butuh power bank banget karena eventnya dari siang sampe malam, sekitar 12 jam. Nanti aku share ya keseruan #WTF15 nya. Sekarang, aku mau share review aku tentang produk ini. 

Karena aku ngga pernah punya power bank, jadi aku searching
dulu merk apa yang bagus tapi ngga terlalu mahal. Kakaku bilang beli merk Xiaomi aja. Setelah aku cari tau, merk Xiaomi ini power bank nya banyak yang bilang bagus dan harga terjangkau. Aku akhirnya memutuskan beli di Lazada yang ada keterangan aslinya. Sebelumnya aku juga nanya ke Lazada (takut palsu), tapi kata CS nya kalau memang palsu kita ada hak pengembalian barang gitu deh. Aku ngga pernah beli barang elektronik online sih, akhirnya aku memutuskan beli disitu.

Pengirimannya lumayan cepet, 3 harian udah sampai. Dibawah nanti aku taro link youtubenya ya. Di video itu aku unboxing paket power bank aku dari Lazada, sedikit tes juga di hp aku (LG G3).

Kalau mau tau lengkapnya tentang produk ini, kalian bisa KLIK disini ya, lengkap disitu penjelasannya.



Pas dibuka isinya hanya ada 1 unit power bank Xiaomi, 1 kabel data, dan buku penjelasan berbahasa Cina. Untuk charge power bank nya, kita mesti punya kepala untuk kabel datanya. Kalau hp ku (LG G3) charge nya ada kepalanya, jadi aku kalau charge power bank ini menggunakan kepala hp LG G3 ku.



Dari pacakgingnya berbentuk kotak berwarna silver gitu, aku suka banget, kesannya elegan dan mewah. Di bagian atas ada tombol power yang gunanya cuma untuk ngecek kapasitas batrenya tinggal berapa. Terus nyalainnya pake apa? Ngga ada tombol on off, jadi kaya otomatis gitu langsung nyambung ke gadget kita. Selain tombol power (untuk cek kapasitas) juga ada 4 LED indikator untuk memberi tahu kapasitas batre tinggal berapa, dan ada 2 colokan USB. Colokan satu untuk disambungkan ke gadget, dan colokan satunya untuk disambungkan dengan charger.



Aku ngga gitu paham sama teknologi ya, jadi bahasanya seadanya aja. :D Untuk performa, itu super awet, asli! Aku pake dari siang sampe malem berkali-kali ngecharge itu masih awet. Pokoknya aku suka banget sama powerbank ini, ngga nyesel deh beli, harganya juga terjangkau.

Tapi hati-hati sewaktu membeli, karena ternyata power bank ini ada fake nya juga loh. Bisa di search di google atau youtube ya perbedaan yang asli dan palsu. Aku setelah cari tau perbedaannya, power bank aku yang ini asli kok. 

Katanya, power bank ini menggunakan cell dari Samsung atau LG. LG G3 ku itu beda dari hp lainnya, jadi, dia itu ada fitur kalau men-charge itu cepat tapi khusus menggunakan charger LG G3. Pas aku coba dengan power bank ini, pengisiannya sama cepetnya. Jadi aku seneng banget banget deh sama power bank ini. Semoga power bank ini awet. :)



Sekian dulu review dari aku, semoga bermanfaat untuk temen-temen yang lagi nyari power bank dengan kualitas bagus dan harga yang murah. Oh iya, aku beli silicone buat ngelindungin power bank ini juga loh, aku belinya di Elevania karena murah.

Harga:
Rp. 215.000 (tergantung penjual)

Love:
- Bentuk dan bahan elegan terlihat mewah
- Warna silvernya cantik
- Pengisian untuk HP LG G3 cepat
- Waktu charge juga cepat

Hate:
- Agak berat
- Tidak disertai kepala charge

Rating:
9.5/10




Ini link youtube untuk video unboxing dan tes di hp LG G3 ya, bisa lihat dibawah: